KAMPUNG HALAMAN
Oleh: KH. M. Abdul Ghufron Al Bantani
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh;
Salam Sejahtera,
Rahayu,
Di Indonesia, rakyat-rakyat harus mengingati sejarah kampung halaman dari Sabang sampai Merauke. Kampung halaman adalah tempat kita dilahirkan, tempat kita dibesarkan dan tempat awal mula kita mengenal kehidupan. Di sanalah kita pertama kali mengenal dunia, pertama kali kita menginjakan kaki di bumi. Di tempat tersebut pula kita diajarkan bagaimana bertahan hidup, di mana canda tawa bersama keluarga dan sanak sauadara menjadi bumbu terindah di setiap harinya. Merasakan kasih sayang orang tua yang susah payah melahirkan kita, menahan keresahan dan kepedihan untuk membesarkan jiwa dan raga seorang anak. Mereka berdua adalah orang-orang yang berharga dalam kehidupan kita. kehidupan kampung halaman, adalah tempat paling nyaman yang kita miliki, karena di dalamnya banyak sekali kenangan-kenangan yang telah terukir, di mana pegunungan, sawah-sawah, sungai, laut, tepi pantai, tambak dll. menjadi teman dalam keseharian kita sewaktu kita masih kecil, bermain bersama teman-teman dan kerabat. Kampung Halaman bisa jadi adalah tempat yang paling dirindukan, apalagi bagi para perantau yang telah lama meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di kota lain atau di luar negeri bahkan menimba Ilmu untuk menggapai suatu harapan dan cita cita.
Disisi lain, seseorang lahir di dunia ini tujuan utamanya adalah untuk mengabdi dan untuk beribadah kepada Tuhan yang Maha Esa. Melalui perjuangan seorang ibu dan bapak, kita semua bisa ada (wujud) dari ridho Allah SWT. Ingatlah pada hakikatnya kita semua adalah perantauan, baik itu pangkatnya Umaro, Ulama, Pejabat, bahkan Rakyat biasa. Karena kita semua mempunyai tanah asal kelahiran, dan asal kejadian. Ketika kita berbicara tentang rindu kampung halaman, ada dua makna yang harus kita fahami, Pertama; kita harus ingat sejarah kampung di mana kita dilahirkan, karena sudah dicontohkan dalam sejarah Rosulullah SAW. ketika hijrah ke Madinah, yang pada akhirnya Rosulullah SAW. kembali lagi ke Makkah, karena Rosulullah merasa bertanggung jawab terhadap tanah kelahirannya, di situ ada kerabat, sahabat, sanak saudara yang harus kita tengok dan kita do’akan. Kedua; kita harus selalu mengingati dari tanah kita diciptakan, dan akan kembali lagi ke tanah. Sebagaimana Allah SWT berfirman;
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى ﴿55﴾
Artinya:”Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain”. (Q.S. Thaha:55)
Karena dunia adalah tempat persinggahan sementara, dan sebagai ladang akhirat tempat kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri yang kekal abadi (kampung halaman yang sejati). Barangsiapa yang mengumpulkan bekal yang cukup maka dengan izin Allah SWT. dia akan sampai ke tujuan dengan selamat, dan barang siapa yang bekalnya kurang maka dikhawatirkan dia tidak akan sampai ke tujuan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sikap yang benar dalam kehidupan di dunia, dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Al Bukhari no. 6053)
Hadits ini merupakan bimbingan bagi orang yang beriman tentang bagaimana seharusnya dia menempatkan dirinya dalam kehidupan di dunia. Karena orang asing (perantau) atau orang yang sedang melakukan perjalanan, adalah orang yang hanya tinggal sementara dan tidak terikat hatinya kepada tempat persinggahannya, serta terus merindukan untuk kembali ke kampung halamannya. Demikianlah keadaan seorang mukmin di dunia yang hatinya selalu terikat dan rindu untu kembali ke kampung halamannya yang sebenarnya, yaitu surga tempat tinggal pertama kedua orang tua kita, Adam ‘alaihis salam dan istrinya Hawa, sebelum mereka berdua diturunkan ke dunia.
Dalam sebuah nasehat tertulis yang disampaikan Imam Hasan Al Bashri kepada Imam Umar bin Abdul Azizi, beliau berkata: “…Sesungguhnya dunia adalah negeri perantauan dan bukan tempat tinggal (yang sebenarnya), dan hanyalah Adam ‘alaihis salam diturunkan ke dunia ini untuk menerima hukuman (akibat perbuatan dosanya)…” (Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ighaatsatul Lahfaan (hal. 84 – Mawaaridul Amaan))
Indonesia terdiri dari beberapa pulau-pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Ketika kita merantau ke daerah lain, kita harus ingat kampung halaman tanah kelahiran kita. Rakyat-rakyat Indonesia jangan sampai melupakan, jangan sampai menodai, dan jangan sampai melupakan sanak saudara, kerabat, teman dan tetangga.
Wahai rakyat-rakyat Indonesia, mari kita bangun negeri ini sesuai dengan Pancasila dan Merah Putih. Indonesia ini betul-betul mempunyai makna sejarah yang berharga, maka dari itu kita semua yang ada di Indonesia, baik itu Ulama, Umaro, dan Umat. Kita harus bersatu dalam kesatuan sesuai dengan sejarah Indonesia. karena NKRI harga mati. Semua kita kembalikan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai Pancasila.
Oleh karenanya setiap makalah yang saya (KH. M. Abdul Ghufron) tulis tidak ada niatan lain selain ingin mengingatkan agar supaya Bangsa ini bisa kembali kepada persatuan dan kesatuan sesuai dengan Pancasila dan Merah Putih, dan saya mendidik santri (Yayasan Pondok Pesantren “UNIQ”) paling utama adalah menerapkan dan membangun manusia seutuhnya agar menjadi manusia bertauhid dan berideologi Pancasila. Karna kita hidup di Negara Indonesia, kewajiban kita sebagai Rakyat Indonesia adalah menjaga keutuhan NKRI Harga Mati. Saya sebagai Rakyat biasa merasa punya tanggung jawab untuk Bangsa ini, karena rakyat mempunya peranan yang sangat penting dalam perjuangan Bangsa, jangan sekali-kali menyepelekan Rakyat, karena semangat patriotisme rakyat adalah semangat yang natural dan murni dari jiwanya.
“Mari, jaga kedaulatan NKRI, kita awali dengan menjaga lingkungan sekitar dengan mengadakan siskamling”
Salam Jiwa NKRI
Salam Jiwa Merah Putih
Salam Jiwa Pancasila
Salam Jiwa Bhinneka Tunggal Ika
Salam Jiwa Rakyat Indonesia
Salam Jiwa Lintas Agama
Salam Jiwa Angkatan Darat (AD)
Salam Jiwa Angkatan Laut (AL)
Salam Jiwa Angkatan Udara (AU)
Salam Jiwa Polisi
Salam Jiwa Rindu Ghufron
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh;
Salam Sejahtera,
Rahayu,
Malang, Minggu, 11 Juni 2017.
Waktu : 20.29 WIB
0 Response to "KAMPUNG HALAMAN"
Posting Komentar